Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie / Simak 3 Film Yang Akan Mengangkat Tema Indonesia Dan Teknologi

Simak 3 Film Yang Akan Mengangkat Tema Indonesia Dan Teknologi

Hiburan.Indolah.com – Turut merayakan Hari Film Nasional, situs crowdfunding wujudkan.com memberi keistimewaan pada sektor film untuk mewujudkan kreasi mereka. Hasilnya, situs crowdfunding ini berhasil membantu empat kreator untuk mewujudkan film-film mereka.

Tiga film tersebut, antara lain film animasi karya Galang Larope yang berjudul Seko; film dokumenter karya sineas Tonny Trimarsanto, Asu Gancet a Documentary, serta film pendek karya Khanza Khalda, mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Fakultas Seni dan Desain, yang berjudul Tujuh. Cerita ketiga film ini mengangkat tema daerah Indonesia. Sementara satu film lainnya adalah film karya Andrika Salim, A Weekend with the Sarwono’s, yang mengangkat tema ketergantungan teknologi.

Baca Juga : Strategi Sokon Agar Tidak Jeblok Seperti Mobil China Lainnya

“Karena ini memang pengalaman pribadi sih. Saya memang berasal dari Sulawesi Tengah. Biasanya kan orang film buat film tentang suatu kejadian memang udah paham sama kejadiannya. Misalnya orang bikin film tentang tahun ’98, dia memang tahu soal hal itu, tentang pandangannya soal kejadian itu. Kalau Seko sendiri saya angkat dari perspektif polos anak kecil. Dia nggak tahu itu ada apa dan ini pengalaman dia saat ada penyerangan di kampung itu,” papar Galang Larope saat ditemu di kawasan SCBD beberapa waktu yang lalu.

Gilang juga menilai kejadian tersebut perlu diangkat dalam sebuah film agar banyak orang jadi mengetahui tentang peristiwa yang pernah terjadi di luar pulau Jawa. Berbeda halnya dengan alasan yang diungkapkan oleh Khanza Khalda dan beberapa temannya sesama mahasiswa UMN Fakultas Seni dan Desain yang memproduksi film Tujuh. Mengadaptasi cerita pendek dari Benny Arnas tentang sebuah mitos santet yang dipercaya oleh masyarakat sekitar, mereka mengaggap daerah Lubuklinggau, Sumatera Selatan merupakan daerah yang jarang diangkat oleh para sineas di Indonesia. Karena itulah kisah ini dijadikan proyek akhir kuliah mereka.

Bagi Tonny Trimarsanto yang membuat film Asu Gancet a Documentary, ternyata faktor kedekatan lokasi jadi pertimbangan dalam menggarap film dokumenter terbarunya. Sebagai orang yang tinggal di Klaten, Tonny sering mengunjungi lokasi pembuatan filmnya di Sukoharjo serta banyak mengobrol dengan tokoh-tokoh dalam filmnya tentang perubahan yang terjadi di daerah tersebut.

“Kalau saya karena dekat ya. Karena untuk lokasi yang jauh butuh biaya yang cukup besar. Kayak saya sedang mengerjakan film di daerah Sumba Barat, itu sudah saya kerjakan sejak 2013 dan belum selesai. Lama dan mahal. Jadi kenapa Asu Gancet karena faktor kedekatan. Saya bisa naik motor ke desa itu,” jelas Tonny.

Sementara itu, Andrika Salim, yang memproduksi A Weekend with the Sarwono’s, melihat ketergantungan manusia sekarang pada kecanggihan teknologi makin meningkat. Manusia saling berkomunikasi dan berekspresi dalam tingkat kecepatan yang tinggi, tetapi pada kenyataanya justru semakin jauh secara fisik dari satu sama lain. Hal ini menunjukkan hal yang seakan mendekatkan ternyata menjauhkan dalam waktu yang bersamaan.

Kini keempat kreator tersebut tengah mempersiapkan diri untuk mulai memproduksi film-filmnya. Mau tahu kisah lengkap dari masing-masing film? Yuk simak dibawah ini:

Seko

Seko merupakan film animasi berdurasi 15 menit. Film ini mengisahkan seputar Desa Beteleme pada 9 Oktober 2003. Ede (kelas 1 SD) sedang bermain di sungai bersama teman-temannya, mencuri singkong dan mengikuti gerobak sapi. Sore hari, ia menonton TV bersama ayahnya lalu mengerjakan PR. Kemudian malam hari, Ede minum susu sebelum tidur. Lalu pukul 1 malam, tiba-tiba terdengar letusan bom.

A Weekend with the Sarwono’s

Film ini menceritakan tentang keluarga Sarwono. Alex & Lucy sibuk mengobrol di virtual chat room, sedangkan Ardi bermalas-malasan di tempat tidur. Rumah mereka dipenuhi alunan suara musik dan alat-alat otomatis yang dikendalikan oleh Mary, operating system rumah yang bertugas mengerjakan semua tugas rumah, bahkan mengatur percakapan antar anggota keluarga agar keluarga Sarwono.

Kemudian Ardi membuka sebuah aplikasi digital drugs yang tergolong illegal dan dapat beresiko terhadap Mary. Keseokan harinya, mereka terbangun, dan mendapati rumah mereka dipenuhi kesunyian dan barang-barang yang tertinggal kotor serta Mary mengalami malfunction.

Asu Gancet a Documentary

Asu Gancet merupakan sebuah film dokumenter berdurasi 60 menit yang memotret kenangan, cinta, dan ketidakberdayaan akibat perubahan iklim. Film ini dikisahkan dari kaca mata tiga nenek kakak beradik yang selalu membuat komposisi musik lesung untuk menandai masa menjelang tanam, masa menjelang panen, dan masa perayaan panen. Judul Asu Gancet sendiri diambil dari judul komposisi musik yang dimainkan dengan lesung.