Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie Review / Review : Eddie The Eagle (2016)

Review : Eddie The Eagle (2016)

Review : Eddie The Eagle (2016)

Review : Eddie The Eagle (2016)

Indolah.com – Kita sama-sama tahu lah formula klasik drama-drama olahraga, kalau tidak menang dramatis yang kalah terhormat, begitu terus berulang-ulang dari sejak era film pertama kali ditemukan sampai saat ini, tak pernah lekang oleh jaman, hebatnya, penonton seperti tidak peduli  dan tidak pernah bosan seberapa usang resep yang dipakai lagi dan lagi, buktinya sub genre ini terus ada dan ada setiap tahunnya. Untuk kasus Eddie The Eagle pun demikian, namun sedikit yang sedikit membedakan adalah narasi dan karakternya yang bisa dibilang sedikit nyentrik karena alih-alih merayakan seorang pemenang kita akan menyaksikan kejayaan seorang pecundang yang tidak pernah memenangkan apapun kecuali mungkin hati para penontonnya.

Diadaptasi dari kisah nyata Eddie Edwards, atlet ski jumping asal Inggris Raya yang sempat menghebohkan ajang Olimpiade musim dingin Kanada 1988 silam. Kenapa di paragraf awal ia punya karakter yang  saya bilang ‘nyentrik’, karena Eddie Edwards memang adalah pribadi tak biasa yang tidak ada duanya. Sejak awal sutradara Derex Fletcher membuka kisahnya, memperkenalkan penontonnya kepada karakter Eddie yang  dimainkan gemilang oleh Taron Egerton yang membuat saya sampai pangling jika ia pernah memainkan tokoh spy keren di The Kingsman Secret Service tahun lalu.

Kita bisa lihat, Eddie adalah pecundang sejati, pecundang yang punya mimpi selangit, yakni menjadi peserta Olimpiade. Meski tidak punya bakat sama sekali dalam bidang olahraga apapun, Eddie punya sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang lain; semangat dan tekad luar biasa besar. Tentu saja sebagai seorang looser pemimpi, Eddie kerap diremehkan lingkungannya, menjadi bahan tertawaan dan ejekan, termasuk ayahnya sendiri yang tidak pernah menganggapnya serius. Hanya ibunya yang selalu menyemangatinya. Setelah beberapa kali usahanya untuk masuk dalam tim Olimpiade Inggris selalu kandas, Eddie akhirnya memilih cabang olahraga ski jumping, apalagi Inggris sudah tidak pernah mengirim perwakilannya lagi sejak enam dekade terakhir di salah satu cabang Olimpiade musim dingin itu.

Tentu saja Eddie sama seperti olahraga lain, Eddie tidak punya bakat sama sekali di dunia per ski jumping-an. Hanya bermodal hasrat dan semangat besar, Eddie nekat berangkat seorang diri ke kamp pelatihan Garmisch-Partenkirchen, Jerman. Di sana ia belajar sendiri  sembari melihat tim  profesional lain melakukan latihan, sampai akhirnya ia bertemu dengan Bronson Peary (Hugh Jackman), pembersih salju pemabuk yang ternyata adalah pensiunan atlet ski jumping Amerika. Dari sini kamu mungkin tahu bagaimana kisah selanjutnya.