Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie / REVIEW Alvin’s Harmonious World of Opposites

REVIEW Alvin’s Harmonious World of Opposites

REVIEW Alvin’s Harmonious World of Opposites

Indolah.com – Ada momen unik usai nonton film ini, Alvin’s Harmonious World of Opposites di sesi khusus media dan undangan di bioskop Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, belum lama ini. Di tengah diskusi antara penonton dan sineas, si pembuat film, Platon Theodoris malah mengajukan pertanyaan ke penonton.

“Boleh gantian saya yang tanya nggak?” Ia meminta izin pada moderator.

Ia lalu bertanya yang kira-kira begini maksudnya, “Anda mengerti tidak kalau maksud adegan anu adalah anu?”

Saya celingukan, menanti apa jawaban yang muncul dari penonton. Ditanya langsung begitu oleh pembuat filmnya sendiri, para penonton pun tampak canggung. Mungkin tak enak hati bila harus berkata jujur. Koor jawaban paling banyak terdengar adalah “Tidak.”

“Ya sudah, nggak apa-apa,” kata sutradara yang pernah membuat videoklip Naif, Club Eighties dan The Brandals tersebut mendengar jawaban kami.

Kami semua kemudian tertawa. Sebab, walau simbol-simbolnya mungkin terasa sulit dipahami, film ini sebuah tontonan yang asik untuk diikuti. Platon sutradara berbakat yang mampu membikin film dengan rapi.

Menonton Alvin’s Harmonious World of Opposites (AHWO) semula saya hendak membandingkannya dengan Being John Malkovich (1999) dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), dua film Hollywood yang skenarionya ditulis Charlie Kaufman.

Yang sudah nonton tentu paham, dua film Hollywood itu bukan film biasa. Kaufman bermain-main dengan isi kepala tokohnya. Di Being John Malkovich, misalnya, ia berkisah tentang seorang artis boneka yang menemukan portal untuk masuk ke dalam kepala aktor John Malkovich. Sedangkan di Eternal Sunshine of the Spotless Mind, kita diajak bertualang melihat bagaimana wujud memori tentang cinta dalam kepala seseorang.
Dua film Charlie Kaufman di atas sejatinya sebuah laku psikologis. Yang disuguhkannya adalah bayangan isi kepala manusia. Kaufman, lewat film-filmnya, berteori begini kira-kira apa yang terjadi di dalam kepala seseorang.

Namun ternyata, dua film Kaufman tersebut bukan padanan yang pas untuk membandingkan dengan AHWO milik Platon yang selama tiga hari ini, Jumat hingga Minggu (20-22 November 2015) diputar untuk publik di Kineforum.

Walau sama-sama bermain dengan gambaran isi kepala seseorang, film Platon terasa surealis dan realisme-magis. Hal itu yang membedakannya betul dengan film-film Kaufman yang meski berwujud tentang petualangan di isi kepala manusia, filmnya sebetulnya berpijak pada hal realis.

Maka, film yang tepat untuk membandingkannya menurut saya adalah Banyu Biru, film karya Teddy Soeriaatmadja yang rilis 2005 silam.

Saya ingat, bilang tak suka pada Banyu Biru, menganggapnya sebuah kecatatan lantaran sineasnya gagal menyampaikan pesan yang ingin diutarakannya pada penonton.

Bagi saya dahulu, Banyu Biru wujud kegagapan sineas kita yang masih belajar di tengah era kebangkitan lagi film nasional di awal 2000-an. Waktu itu banyak karya yang diniatkan jadi film yang kisahnya “larger than life”, namun sang sineas tampak kikuk mewujudkannya ke film.

Anda mungkin masih ingat, waktu itu Banyu Biru dipromosikan sebagai film surealis dengan pendekatan realisme-magis. Dua istilah itu akrab dengan ranah sastra dan seni lukis. Secara sederhana, surealisme dan realisme-magis tetaplah berpijak pada realisme atau kenyataan sehari-hari, namun yang membuatnya berbeda kenyataan sehari-hari tersebut terasa berbeda dari biasa. Sureal dan magis. Penuh keajaiban namun sebetulnya tetap berpijak pada realisme.

Di Banyu Biru kita melihat perjalanan tokoh kita, Banyu (Tora Sudiro) yang terasa sureal dan magis. Ia bertemu orang-orang unik dalam perjalanannya ke kampung halaman demi bertemu ayahnya.

Namun, segala petualangan surealis dan magis Banyu kemudian diruntuhkan sendiri oleh sineasnya kala kita, penonton, mendapati Banyu terbangun dari mimpinya. Rupanya, yang kita saksikan sepanjang film semata “petualangan” di alam mimpi tokohnya.

Kita lalu bergumam, “Pantas saja petualangannya ‘surealis’ dan ‘magis’, toh semuanya berlangsung di alam mimpi. Segala hal bisa terjadi dalam mimpi. Termasuk yang surealis dan magis.”

Kesimpulan atas Banyu Biru tersebut yang saya ingat betul saat nonton Alvin’s Harmonious World of Opposites (AHWO) ini.

Adegan film Alvin’s Harmonious World of Opposites. (dok. alvinsharmoniousworld.com)

Manusia Kamar Zaman Sekarang

Di AHWO, kita bertemu sosok bernama Alvin (diperankan Teik-Kim Pok), seorang pria penyendiri yang tinggal sendirian di apartemennya. Dari apartemennya, Alvin bekerja sebagai penerjemah buku. Ketika bekerja, saat ber-teleconference via Skype dengan editor bukunya, Alvin akan menurunkan kerai yang memperlihatkan seolah ia tak sedang bekerja dari kamar apartemennya, tapi dari sebuah kantor formal.

Adegan ini bikin senyum dan jadi kritik yang pas bagi budaya kerja yang masih menekankan formalitas bekerja harus duduk rapi di kantor. Dengan perkembangan teknologi saat ini, hal seperti itu sepatutnya terasa ketinggalan zaman.

Alvin menjalani hidupnya sendirian di dalam apartemen dengan bahagia. Ia bersosialisasi dengan kawan via Skype, belanja kebutuhan sehari-hari lewat online. Untuk hiburan “kotor”, ia punya lubang di lantai yang membuatnya bisa mengintip tetangga di bawah. Tetangganya seorang perempuan seksi. Ia bisa melihat si perempuan saat berganti pakaian.

Sampai di sini, saya teringat pada tokoh di cerpen “Manusia Kamar” karya Seno Gumira Ajidarma. Di cerpen tersebut, Seno menggambarkan seorang tokoh yang memilih mengasingkan diri dari kehidupan dunia luar dengan mengurung diri di kamarnya. Si tokoh itu jenuh melihat manusia.

“Aku bosan lihat orang-orang itu.”

“Kenapa?”

“Munafik, penjilat, tukang onani jiwa.”

“Wah, jangan begitu dong. Itu manusiawi kan?”

“Memang, tapi sebal melihatnya. Jenuh.”

Begitu potongan dialog yang terdapat di cerpen “Manusia Kamar”. Saat nonton Alvin’s Harmonious World of Opposites, saya menunggu-nunggu apa si tokoh kita, Alvin punya alasan yang 
sama mengurung diri dengan si Manusia Kamar.

Tapi saya tak menemukannya. Saya mendapati, Alvin hanya sosok anti-sosial yang tak biasa bergaul dengan orang luar. Alvin bukan menjauhi dunia karena ia sudah muak dengan yang serba dunia. Melainkan, secara psikologis ia tak merasa cocok bergaul dengan dunia luar.

Di sini mungkin yang membedakan era saat cerpen “Manusia Kamar” dibuat (yakni 1980) dengan era sekarang saat film AHWO lahir. Bukan berarti kemunafikan duniawi sudah sirna, namun saat ini alasan orang mengurung diri lebih cenderung lantaran alasan personal, memiliki kepribadian yang tak cocok bergaul dengan dunia luar alias introvert. Manusia sekarang sejak kecil sudah ditanamkan untuk jadi pribadi yang anti-sosial.

Tengok misalnya, anak kecil sejak dini dikenalkan dengan gadget, membuat mereka lebih akkrab dengan layar di gawai ketimbang dengan teman sebaya. Beranjak remaja, mereka pun kian akrab dengan permainan di komputer dan gadget yang tergenggam. Saat dewasa, gadget tak bisa lepas dari mereka.

Komunikasi langsung yang karib kini pun kian terganti dengan komunikasi maya. Manusia saat ini mungkin punya lebih banyak teman dibanding orang-orang terdahulu, tapi kebanyakan teman virtual di Facebook atau Twitter, yang tak dikenal secara personal.

Pada titik ini kita telah jadi Alvin-Alvin seperti di film ini. Di sini lantas kita bisa memaknai filmnya lebih dari sekadar perjalanan visual. Secara visual dan narasi, AHWOmenawarkan surelisme. Tapi, tak seperti Banyu Biru, film ini tak hendak mengkhianati penontonnya. Saat kita dibuat tersadar bahwa perjalanan surealis tersebut hanya berlangsung di kepala tokohnya, kita tak seperti merasa tertipu.

Ketika gambar menyorot Alvin bersemadi di dalam kamarnya, kita tahu ia telah menemukan ketenangan jiwa yang diidamkannya