Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie Review / Parasyte Part 2 Baurkan Batasan ‘Good and Evil’

Parasyte Part 2 Baurkan Batasan ‘Good and Evil’

MovieReview,Indolah – Ada pertanyaan yang terus mengusik benak Takashi Yamazaki ketika memulai syuting film Parasyte. Sutradara yang sebelumnya menggarap Stand Bye Me Doraemon dan Space Battleship Yamato ini penasaran mengapa industri film raksasa seperti Hollywood tak mampu membuat film yang diadaptasi dari manga Jepang secara baik.

“Saya pikir mungkin karena manga tidak memberikan pembedaan yang jelas antara baik dan jahat,” ujar Takashi Yamazaki,”Dalam sebuah negara politeis (penganut politeisme, yakni percaya atau memuja kepada lebih dari satu Tuhan, red) seperti Jepang, bagi kami para parasit bisa saja dianggap tak ubahnya seperti ‘Tuhan’ yang merupakan bentuk makhluk hidup lebih tinggi daripada manusia.”

Sutradara dua jilid Parasyte ini melanjutkan bahwa apabila sebuah film memuat karakter-karakter yang tidak jelas tergolong baik atau jahat atau malah menunjukkan bahwa kedua sisi sifat tersebut eksis dalam diri kita semua, maka film tersebut barangkali tidak dapat diterima dengan baik oleh para penonton di Amerika Serikat. “Jika dilihat dari sudut pandang agama Kristiani, ada yang tidak beres terhadap (penggambaran karakter) itu,” lanjut Takashi.

Parasyte Part 2 memuat penggambaran-penggambaran karakter itu, terutama lewat tokoh utamanya, Shinichi Izumi. Dan, ketimbang film pertamanya yang mencetak hit dengan menjual lebih dari 1,5 juta tiket sejak dirilis pada November tahun lalu, Parasyte Part 2 memang lebih membaurkan lagi batasan-batasan antara ‘good and evil’.

Dia (Shinichi) berada di antara dua spesies, dan jenis hero seperti ini sangat khas bagi Jepang. Hal yang sama bisa terlihat pada Kamen Rider, Ultraman, atau Devilman… Ketika menyaksikannya pertama kali, kamu mungkin mendapat kesan bahwa film ini tak jauh berbeda dengan film invasi alien produksi Hollywood dan film-film tentang kerasukan setan. Dalam membuat film ini, walau begitu, saya mulai menyadari bahwa Parasyte memiliki sebuah perspektif unik ala Jepang,” ujar Takashi, yang juga membuat The Eternal Zero.

Parasyte Part 2 sendiri menceritakan simbiosis mutualisme antara Shinichi Izumi (Shota Sometani) dan Migi (diisi suaranya oleh Sadao Abe) yang terjalin makin kuat. Migi, si alien parasit, tak lagi cuma menumpang hidup di tangan kanan Shinichi, tapi menjalin emosi dengan sang inang, bahkan ikut menguatkannya. Antara Migi dan Shinichi kini saling mengisi. Mereka pun makin kompak untuk menemukan dan membasmi parasit lain yang sudah menguasai tubuh-tubuh manusia.

Aksi Shinichi dan Migi ini lama-kelamaan membuat gerah para parasit yang sudah menguasai kantor wali kota. Yakni, Takeshi Hirokawa (Kazuki Kitamura) yang sudah menjadi wali kota dan kaki-tangannya. Salah satu kaki-tangan yang terkuat adalah Goto (Tadanobu Asano), yang ternyata merupakan kombinasi dari lima parasit. Di sisi yang mulai berseberangan dengan Wali Kota Takeshi Hirokawa dan kelompoknya adalah Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu).

Ryoko—mantan guru SMA tempat Shinichi dan teman akrabnya, Satomi Murano (Ai Hashimoto), bersekolah—tadinya adalah sosok yang kerap dimintai saran dan wejangan oleh Takeshi. Ryoko memang parasit yang cerdas. Niatnya adalah hidup berdampingan secara damai dengan manusia. Namun, ego dan ambisi Takeshi untuk menjadi populasi yang terkuat di bumi lebih besar serta lebih ganas. Ryoko pun mulai dianggap jadi penghalang.

Perlahan, pengkhianatan terjadi dan keberpihakan baru terhadap kubu Shinichi dan Migi muncul. Seiring dengan itu, kehadiran Kuramori (Nao Omori), seorang jurnalis lepas yang mencoba untuk menguak eksistensi kelompok parasit, memanaskan suasana. Belum lagi aksi kepolisian untuk membasmi para parasit yang menjangkiti kantor wali kota mulai berjalan secara eksesif.

Parasyte Part 1 dan Part 2 merupakan adaptasi seri manga terkenal, Kiseiju, karya Hitoshi Iwaaki. Kaiseju pertama kali dipublikasikan di majalah Kodansha’s Afternoon pada tahun 1990 hingga 1995. Serial manga ini telah memenangkan sejumlah penghargaan, seperti Kodansha Manga Award pada tahun 1993 dan Seiun Award sebagai ‘The Best Manga of the Year’ pada tahun 1996.

Pada film pertama Parasyte yang dirilis pada November lalu, para alien parasit dikisahkan menyerang manusia dengan cara masuk dari telinga lalu menuju ke otak. Orang-orang yang sudah dikuasai parasit pun tak lagi menjadi manusia. Perilaku mereka layaknya para pembunuh berantai (serial killer) yang diam-diam seperti memendam masalah psikologis nan berat. Mereka jadi ganas, yakni memakan manusia untuk kelangsungan hidupnya.

Baik Parasyte Part 1 maupun Part 2, kisahnya setia dalam menyelipkan isu lingkungan yang kental, selain juga perilaku umat manusia yang makin destruktif terhadap bumi. Manga Kiseiju memang menorehkan isu-isu penting tersebut, dan sutradara Takashi Yamazaki tak menghilangkannya dalam film dua jilid Parastye.

“Kita hidup dalam ketakutan dan di tengah-tengah situasi-situasi ekstrim yang tidak stabil, tanpa bisa mengetahui kapan gempa bumi besar akan terjadi, atau berapa besar tingkat radiasi di luar sana. Saya percaya bahwa cerita film ini harus disampaikan dengan baik karena situasi-situasi tersebut. Saya merasa penyampaian pesan tentang hal ini juga penting dituturkan tidak hanya lewat jalur politik, tapi juga lewat hiburan,” ujar Takashi Yamazaki.

Parasyte Part 2 sudah dirilis di Jepang sejak 25 April lalu. Hingga 17 Mei lalu, film tersebut sudah ditonton 1.006.992 orang dan menuai pendapatan 1,28 miliar yen.