Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie Review / Menjaga Sinematek, Melestarikan Film Indonesia

Menjaga Sinematek, Melestarikan Film Indonesia

MovieReview,Indolah – Setiap tarikan napas Misbach Yusa Bira terdengar jelas di dalam lift yang sempit itu. Suara napas yang panjang dan agak berat tersebut juga seakan memastikan tuanya fisik Misbach, sineas senior sekaligus inisiator dan pendiri Sinematek Indonesia. Inilah pusat dokumentasi film Indonesia satu-satunya di seantero nusantara, bahkan pernah menjadi arsip film pertama di Asia Tenggara saat didirikan pada tahun 20 Oktober 1975.

Almarhum Misbach (beliau wafat pada 11 April 2012 dalam usia 78 tahun) dan suara napasnya itu menjadi pembuka film dokumenter Anak Sabiran di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip) karya Hafiz Rancajale. Adegan pembuka dokumenter itu juga tak cuma memperlihatkan Misbach yang sudah renta, tapi juga lift yang sudah berumur. Jalannya lift amat lambat. Untuk turun dari lantai lima ke lantai basement saja memakan waktu nyaris satu setengah menit dengan sempat berhenti di dua lantai.

Lift sempit dan lambat itu milik gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) di Jalan HR Rasuna Said, Kavling C22, Kuningan, Jakarta Selatan. Di gedung tersebutlah Sinematek Indonesia berkantor, tepatnya di lantai empat. Adapun perpustakaan menempati lantai lima dan ruang penyimpanan arsip film Sinematek berada di basement. Lift yang berjalan lambat itu seakan jadi personifikasi Misbach Yusa Biran yang sudah berpuluh-puluh tahun mendedikasikan hidupnya untuk Sinematek.

“Selama dalam proses perjalanannya (Sinematek) dari tahun 1975 sampai Pak Misbach (terakhir menjabat tahun) 2001 itu sangat bagus. Bagus dalam pengertian bahwa kalau kita bicara Sinematek, ya Misbach Yusa Biran. Begitu sebaliknya,” kata Adisurya Abdy, Kepala Sinematek Indonesia, di ruangan kantornya yang masih menyisakan bau asap rokok pada beberapa waktu lalu. Ketika diwawancarai Muvila, pria berusia 58 tahun ini pun sempat menghisap satu batang rokok.

“Kemudian ketika Pak Misbach tak lagi mempimpin Sinematek, diganti oleh orang lain, persoalannya kapasitas, kemampuan, kebiasaan, pemahaman kan berbeda. Kemudian setelah itu digantikan lagi orang lain jadi kehilangan core. Kalau saya bilang kehilangan grip. Kalau sudah begitu, susah mau dibawa ke mana (Sinematek),” lanjut Adisurya, yang menjabat sebagai Kepala Sinematek sejak tahun 2012 ini.

Kondisi Sinematek memang seakan merana, terutama pasca berhentinya Misbach Yusa Biran dari jabatan Kepala Sinematek. Hingga kini, koleksi film maupun skenario Indonesia di lembaga pengarsipan film tersebut tak gencar bertambah. Sampai sekarang, Sinematek telah mengoleksi sekitar 2.700 film yang diproduksi sejak tahun 1934 hingga 2011 serta lebih dari 15 ribu dokumentasi tentang film (kliping berita, poster, skenario, buku, peraturan perfilman, dan peralatan lawas produksi film).

“Dulu kan ada izin produksi. Setiap bikin film harus minta izin, dan memberikan dua skenario. Nah satunya saya ambil, jadi lengkap. Sekarang karena nggak ada izin, ya susah dapat skenarionya. Kadang dikasih, kadang nggak,” ujar Misbach tentang cara untuk mengumpulkan koleksi arsip Sinematek Indonesia, seperti yang ditampilkan dalam film dokumenter Anak Sabiran di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip).

Adisurya tak menampik tentang krusial dan sentralnya peran Misbach Yusa Biran dalam memaksimalkan kerja Sinematek untuk mengarsip film-film Indonesia. Ia juga menyadari bahwa sulit untuk menemui orang-orang yang memiliki rasa cinta, semangat dan kemampuan seperti halnya Misbach. Walau begitu, Adisurya menolak bergantung kepada proses regenerasi untuk melahirkan orang-orang seperti Misbach Yusa Biran.

“Regenerasi masalah kesadaran. Ini bukan lembaga pendidikan yang mendidik orang untuk kemudian menggantikan orang lain. Ini kesadaran dan kebersamaan orang film. Orang film yang mempunyai kesadaran, kepedulian terhadap arsip film sebagai kekayaan bangsanya. Kalau tidak memiliki kesadaran itu, jangankan ngurusin Sinematek, orang bikin film saja nggak kasih (copy) filmnya ke Sinematek. Yang rugi dirinya sendiri. Karya dia tidak dikenal orang, karena tidak ada dokumentasinya. Lalu negara rugi karena kehilangan heritage karya film anak bangsa,” ucap Adisurya, berapi-api.

Minimnya kesadaran para pembuat film sekarang dalam hal pengarsipan film juga menjadi salah satu penyebab seretnya penambahan jumlah koleksi Sinematek. Almarhum Misbach Yusa Biran menyadari kurangnya kesadaran tersebut. Malahan, dia juga merasa kecewa.

Curahan wajah dan emosi kecewa Misbach itu tertangkap kamera dan dimasukkan dalam film dokumenter Anak Sabiran di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip). “Tuh coba, masa begini… Sayang ya…, 30 tahun saya habiskan di sini. Ujungnya dibeginiin aja… Aah…nasiib lah,” ujar Misbach ketika menyambangi ruang penyimpanan arsip film Sinematek beberapa bulan sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.

Sudah sepantasnya memang Misbach untuk merasa kecewa. Sebab, tujuannya mendirikan Sinematek adalah untuk masa depan generasi Indonesia. Johan Tjasmadi, mantan Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) pernah mengulang kalimat jawaban Misbach ketika ditanya Ali Sadikin tentang fungsi penting dari mendirikan pusat pengarsipan film.

“Film-film ini nantinya yang akan berbicara mengenai kita di masa mendatang. Ia akan berbicara mengenai budaya dan identitas Indonesia, kepada generasi yang akan datang,” ujar Johan dalam acara Mengenang H Misbach Yusa Biran di Jakarta pada 16 Juli 2012.

Sinematek Indonesia sendiri memang dapat lahir atas dukungan penuh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin setelah Misbach mengirimkannya proposal untuk pembentukan lembaga arsip film. Kala itu, Misbach memutuskan berhenti bikin film dan ingin fokus untuk kegiatan pengarsipan film. Gara-gara itu, sang istri yang juga seorang aktris senior, Nani Wijaya, pun sempat merasa khawatir.