Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie / “Melancholy Is A Movement” Membuat Penonton Penasaran

“Melancholy Is A Movement” Membuat Penonton Penasaran

Melancholy-Is-A-Movement

Movie Review, Indolah – Sutradara Joko Anwar dalam film garapan Richard Oh ini bermain lakon sebagai tokoh utama bernama Joko, dan berprofesi sebagai sutradara film persis seperti di kehidupan nyata. Ia pun diceritakan berteman dengan Upi (sutradara ‘Realita, Cinta dan Rock n Roll’), aktor Ario Bayu, Fachry Albar, Amink, Nazira C Noer, dan masih banyak lagi yang lainnya yang mana merupakan sahabat-sahabatnya pula di keseharian.

Alkisah, Joko sang sutradara tengah kehilangan semangatnya untuk berkarya, hingga datanglah satu tawaran padanya untuk menggarap sebuah film religi, jenis film yang nampaknya ia jauhi betul. Namun, di saat tak ada proyek lain yang bisa ia kerjakan, ditambah tagihan sewa kantor yang musti ia lunasi, Joko pada akhirnya menyanggupi tawaran tadi. Tapi, bukan sembarang film religi yang ia buat, ada sentuhan-sentuhan artistik nyeleneh yang ia terapkan ke dalam film religinya tersebut. Adegan ia tengah syuting mengarahkan Ario Bayu berakting di depan kamera di sebuah studio kocak juga; Ario Bayu tidak memahami apa keinginan Joko sebagai sutradara hingga mereka kemudian sedikit cekcok.

Ada lagi adegan kocak lainnya; Joko Anwar memberi saran pada Upi, temannya sesama sutradara yang sedang syuting FTV, “Lo taruh aja kamera depan aktor lo, suruh dia diam dan kamera zoom ke mukanya biar nanti penonton mikir dan merasakan ada sesuatu yang deep-deep gimana gitu.” Nah, persis seperti itu pula sebenarnya yang dilakukan Richard Oh dalam menggarap film ini.

Dalam eseinya ‘Mourning and Melancholia‘ Freud menyamakan “melancholy” dengan patah semangat dan apati akan rasa depresi. Bapak psikoanalisis itu juga merujuk “melancholy” pada narsisisme. Di film ini karakter Joko lebih terasa sebagai orang yang depresif ketimbang melankolis, setidaknya kesan itulah yang nampak dari akting yang diperlihatkan Joko Anwar kepada kita.

Richard Oh mungkin sepaham dengan Freud soal teori “melancholy” tadi. Keputusannya untuk mengajak segenap teman-temannya berakting narsis sebagai diri mereka masing-masing membuat teori Freud lengkap teraplikasi dalam filmnya.

Singkatnya, ‘Melancholy is a Movement‘ adalah film yang jauh lebih njelimet ketimbang ‘Opera Jawa’-nya Garin Nugroho, maupun ‘Babi Buta yang Ingin Terbang’-nya Edwin sekalipun. Dibandingkan dengan ‘Melancholy is a Movement’, film ‘Opera Jawa’ jadi terlihat seperti ‘Habibie & Ainun’ yang kisahnya asik dan gampang dicerna itu.