Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie / Intip REVIEW Point Break, Film Bagi Generasi Fast and Furious

Intip REVIEW Point Break, Film Bagi Generasi Fast and Furious

Intip REVIEW Point Break, Film Bagi Generasi Fast and Furious

Indolah.com – Sebelum Fast and Furious, tersebutlah Point Break.

Bagi generasi 1990-an, Point Break menjadi salah satu film asyik yang lahir di era itu. Ditonton lagi filmnya sekarang pun Point Break tetap asyik. Masihkah Anda ingat dengan ceritanya?

Baiklah saya ingatkan lagi. Di kawasan pinggir pantai Kota Los Angeles, sekelompok penjahat merampok bank menggunakan topeng mantan-mantan Presiden AS, yakni Ronald Reagan, Jimmy Carter, Richard Nixon, dan Lyndon B. Johnson. FBI meyakini para perampok itu aslinya para peselancar yang juga penggemar olahraga ekstrem.

FBI kemudian mengutus agen terbaiknya, Johnny Utah (Keanu Reeves) untuk menyusup ke kelompok selancar tersebut. Johnny diterima sebagai anggota kelompok. Ia mendapat kepercayaan Bodhi (Patrick Swayze), sang ketua geng yang gila surfing hingga rela menantang maut. Johnny lalu dihadapkan pada dilema sebagai penegak hukum, menggulung penjahat sesuai misinya atau menjadi pengikut Bodhi.

Adegan film Point Break. (dok. istimewa)

Point Break rilis 1991 dari tangan dingin Kathryn Bigelow, yang di kemudian hari mendapat perhatian Oscar untuk The Hurt Locker dan Zero Dark Thirty. Meski disutradarai perempuan, Point Break dianggap film yang “sangat laki-laki.” Ia sebuah film macho yang sedikit sekali menunjukkan sisi kelembutan pria. Kalaupun ada karakter perempuan bernama Tyler (diperankan Lori Petty), porsinya hanya sebagai tempelan, pemanis bagi para pria.

Filmnya juga jadi salah satu penanda 1990-an. Koran Inggris The Guardian pada 20 Maret 2014 menempatkannya dalam daftar A-Z film-film yang berpengaruh bagi generasi 1990-an. Wartawan The Guardian menulis, di tahun 1990-an, budaya surfing atau berselancar telah jadi mainstream. Orang berteriak “cowabunga” merasa keren. Point Break adalah wujud pengakuan di ranah budaya mainstream masa itu.

Di luar itu, Point Break juga bisa ditengok sebagai cikal bakal film yang menggabungkan olahraga ekstrem dengan kisah polisi menyusup ke sarang penyamun. Pada titik ini, filmnya merupakan cetak biru dari franchise sukses Fast and Furious.

Dengan mudah Anda bisa langsung mengaitkan kemiripan Point Break dengan Fast and Furious. Jika Anda lupa dengan awal kisah Fast and Furious, baiklah saya ingatkan lagi.

Alkisah, di The Fast and the Furious (2001), Brian O’Conner (Paul Walker), seorang polisi yang juga penggemar mobil balap, ditugaskan menyamar ke dalam komplotan penjahat di Los Angeles yang diketuai pembalap liar Dominic Toretto (Vin Diesel). Brian lalu bersahabat dan jadi orang kepercayaan Dom. Brian bahkan juga mengencani adik Dom, Mia. Di ujung film, Dom dibiarkan kabur oleh Brian.

Dari kemiripan ceritanya di atas bisa disimpulkan Fast and Furious pada awalnya adalah versi olahraga ekstrem mobil balap dari Point Break yang mengangkat subkultur para peselancar.

Kini Fast and Furious telah beranak pinak menjadi franchise sukses dengan total 7 film dan yang ke-8 sedang dibuat. Ceritanya juga sudah berkembang bukan lagi kisah polisi di sarang penyamun, melainkan sang penyamun telah bergabung dengan polisi jadi penegak hukum yang di setiap film punya misi menggulung kelompok penjahat baru. Fast and Furious juga berkembang dari kisah persahabatan menjadi kisah tentang menempatkan keluarga sebagai prioritas hidup.

Nah, di tengah puncak franchise Fast and Furious hadirlah versi baru Point Break. Dibilang versi baru lantaran ini adalah buat ulang dari film lama. Bagi Hollywood mungkin kini saat yang tepat mengenalkan Point Break bagi penonton generasi baru, yakni mereka yang tumbuh bersama 7 film Fast and Furious.

Sebagai film buat ulang, Point Break mengenalkan kita lagi pada Johnny Utah baru dan Bodhi baru. Jika di versi 1991 kita bertemu Keanu Reeves dan Patrick Swayze, di versi 2015 tokoh Johnny dan Bodhi masing-masing dimainkan Luke Bracey dan Edgar Ramirez.

Kisahnya mirip, cuma kali ini skalanya global. Dunia diguncang aksi kejahatan di beberapa tempat di dunia yang ditengarai dilakukan penggemar olahraga ekstrem. Johnny Utah, agen FBI baru, punya teori siapa pelaku di balik aksi kriminal yang mengguncang dunia itu.

Menurut dia, pelakunya tak mengincar uang atau kekayaan (bisa dilihat dari aksi mereka menyebar berlian dan uang hasil rampasan ke daerah-daerah miskin), melainkan bagian dari upaya mencapai tahap spiritualitas tertinggi.

Aksi kejahatan yang dilakukan Bodhi dan komplotannya menjadi praktik menuju pencerahan spiritual ala aliran New Age. Sambil melakukan aksinya, mereka juga memulangkan pada Bumi apa yang sudah diambil manusia dari planet ini (misal, truk dari tambang emas dihancurkan oleh longsoran tebing yang mereka rancang).

Di luar bumbu spiritualitas dan pencerahan ala New Age itu, Point Break versi baru tetap menawarkan keseruan yang memacu adrenalin. Berbagai olahraga ekstrem ditonjolkan. Tidak hanya surfing, tapi juga motor cross, snowboarding, naik gunung, terjun dari puncak gunung, hingga panjat tebing. Penyuka olahraga ekstrem dan pencinta alam dijamin bakal suka film ini.

Luke Bracey dan Edgar Ramirez tak berpretensi hendak menyamai pencapaian akting duet Keanu Reeves dan Patrick Swayze di tahun 1990-an. Mungkin terasa kemiripan Bracey dengan Keanu di tahun 1990-an. Namun, bila di tahun 1990-an Keanu tampak seperti anak pantai yang keren era 1990-an, Bracey (terakhir kita lihat jadi pria romantis diThe Best of Me) di era 2010-an tak jadi sok cool. Perangainya natural. Di lain pihak, Bodhi yang dimainkan Ramirez tampak memendam rasa sakit yang ia sembunyikan di balik tingkah ekstremnya. Dua-duanya berhasil tak meniru karakter lawas, melainkan menyuguhkan karakter baru bagi penonton baru.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kemudian Point Break akan ditempatkan sekarang di tengah puncak popularitas Fast and Furious yang sudah menghasilkan miliaran dollar AS?

Dibanding Fast and Furious 7 yang edar April tahun ini, Point Break versi baru memang terasa seperti film kecil. Namun bagi saya, di sini pula keunggulannya. Point Break tak hendak mengungguli Fast and Furious dari segi naratif yang terasa kian menganut formula film blockbuster.

Film garapan Ericson Core (penata kamera The Fast and the Furious, 2001) ini tak jadi sok sentimentil seperti Fast and Furious 7. Point Break versi baru tetap setia sebagai film yang “sangat laki-laki.”