Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie / Film Birdman Lebih Dari Pencapaian Teknis

Film Birdman Lebih Dari Pencapaian Teknis

Hiburan.Indolah.com – film berlabel komedi pertama dari sineas asal Meksiko, Alejandro González Iñárritu, yang biasanya membuat film-film tragis dan depresif seperti 21 Grams dan Babel. Dan, yang lebih bikin penasaran lagi, film ini berkonsep seolah-olah direkam dalam satu kali take tanpa putus. Konsep tersebut rupanya berhasil diterapkan dengan memanfaatkan keahlian dan teknologi masa kini. Namun, itu tidak menjadi distraksi terhadap cerita yang sebenarnya ingin diangkat.

Riggan Thomson (Michael Keaton) sempat jadi bintang film terkenal di seluruh dunia berkat peran superhero Birdman dalam tiga filmnya yang sukses besar. 20 tahun kemudian, Riggan berupaya mengangkat citra dirinya sebagai seniman sejati, dengan hijrah ke dunia drama teater di Broadway, New York. Riggan Thomson tidak hanya sebagai aktor, ia juga menulis naskah dan menyutradarainya. Ia pun mengadaptasi cerita pendek yang terkenal dari pengarang Raymond Carver, What We Talk About When We Talk About Love. Film ini berjalan mengikuti persiapan Riggan dan orang-orang sekitarnya untuk pertunjukan tersebut, mulai dari latihan, preview (pra-pertunjukan), sampai malam pertunjukan perdana.

Film ini dilakukan dengan pergantian adegan serta transisi waktu, tempat dan kejadian secara langsung dan di depan mata penonton, tanpa menggunakan teknik jump-cut yang biasa dipakai dalam film. Film ini tidak Bisa jadi langsung dalam satu kali take, dengan trik editting gambar-gambar ini di sambung menjadi suatu film yang menarik.

Namun, dengan menggunakan konsep seperti itu, bukan berarti film ini jadi berutur monoton. Film ini dirancang sedemikian rupa supaya tetap terkesan dinamis. Pertama, kamera akan selalu bergerak dalam mencari sudut yang terbaik dari setiap adegan, tidak statis di satu sudut saja. Kedua, perpindahan adegan ditandai dengan warna tiap ruangan dan pencahayaan yang berbeda-beda. Alhasil, meski dituturkan tanpa putus, dinamika pergerakan cerita dan emosi pun tetap dirasakan. Inilah yang membuat konsep penuturan Birdman layak dipuji, sekalipun bukan film pertama yang menerapkannya.

Di sisi lain, Birdman tidak hanya bermodalkan teknik penuturan yang beda saja. Skenario yang teliti juga menjadi daya tarik penting dari film ini. film ini bercerita tentang upaya seorang mantan bintang yang mulai pudar untuk bangkit lagi, untuk membuat keberadaannya diakui. Dan, bukan sekadar diakui, tetapi dihargai. Riggan mau membuktikan Birdman bukanlah satu-satunya peran yang ia mampu lakoni, sekalipun itulah satu-satunya peran dalam kariernya yang dikenal orang. Pertaruhannya cukup besar, ia harus menanggung sendiri bila proyek ini berhasil ataupun gagal.

Proyek Riggan Thomson ini memang bisa dibilang untuk memuaskan egonya sebagai seorang aktor. Yang harus dihadapkan pada realita di sekitarnya. Mulai dari pembiayaan yang terbatas, anggapan skepstis komunitas teater, perilaku aktor-aktris lain yang beraneka rupa—terutama Mike Shiner (Edward Norton) yang kerap mencuri sorotan publik dari Riggan, sampai hubungannya yang berjarak dengan sang putri sekaligus asisten pribadi, Sam (Emma Stone).

Tetapi, “pertarungan” utama Riggan justru melawan bayang-bayang sosok Birdman, yang masih terus mengganggunya lewat suara-suara di kepalanya. Semakin Riggan ingin menyukseskan pertunjukan ini, si Birdman semakin keras menghalanginya. Di sisi lain, ada beberapa bagian dalam diri Riggan yang sepertinya setuju dengan si Birdman. Dalam imajinasi Riggan, ia merasa masih punya kekuatan super Birdman, seperti telekinesis dan terbang. Itu sebab yang dianggapnya jadi penyebab kecelakaan yang menimpa salah satu aktor utama pertunjukkannya. Riggan juga tak kuasa mengakui, hanya dengan menjadi Birdman-lah ia dipandang dan dielu-elukan orang.

Dalam percakapan dengan mantan istrinya (Amy Ryan), terungkap bahwa Riggan punya sedikit gangguan kejiwaan, yang menjadi penyebab perceraian mereka. Melihat keadaan ini, semakin jelas bahwa yang dilakukan Riggan bukan sekadar memuaskan ego untuk lepas dari bayang-bayang Birdman dalam hal karier, tetapi juga caranya untuk meredam, bahkan mungkin lepas dari sosok Birdman, yang merupakan “kepribadian lain” yang masih bersarang dalam dirinya. Itu pula yang membuat Riggan ngamuk ketika orang-orang menganggap proyek ini tidak serius, sebab baginya ini masalah hidup dan matinya sebagai seniman dan sebagai manusia.