Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie Review / Film Ayat-Ayat Adinda, Niat Murni Terhalang Label Sesat

Film Ayat-Ayat Adinda, Niat Murni Terhalang Label Sesat

MovieReview,Indolah – Masa liburan sekolah dan juga bulan Ramadan yang akan dijelang dianggap sebagai momen yang tepat untuk merilis film drama keluarga bertema Islami, Ayat-Ayat Adinda. Film arahan sutradara Hestu Saputra (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar) dari skenario karya Salman Aristo (Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi) ini mengangkat pembacaan ayat Al Quran dan juga lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) sebagai tema sentralnya. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, film ini ingin menyorot isu tentang kecenderungan masyarakat yang mudah menghakimi sesuatu yang dianggap berbeda.

Adinda (Tissa Biani Azzahra) adalah seorang anak SD dengan bakat istimewa di bidang tarik suara, namun ia kesulitan menyalurkannya. Ia dihardik ketika melakukan improvisasi dalam latihan kelompok kasidah sekolahnya. Tapi, itu tak seberat fakta bahwa sang ayah, Faisal (Surya Saputra) melarangnya untuk ikut lomba apa pun. Beruntung Adinda punya dua teman yang ingin membangkitkan semangatnya. Adinda pun diajak untuk ikut MTQ. Pikirnya, tak ada yang salah dengan membaca Al Quran, dan kalau pun menang ia dapat membanggakan keluarganya.

Namun, untuk ini pun Adinda harus sembunyi-sembunyi, mengingat ayahnya memang sangat membatasinya agar jangan terlalu menonjol. Yang tidak Adinda ketahui benar, ia sekeluarga ternyata selama ini sering dituding sesat, sehingga harus hidup berpindah-pindah. Hal ini makin mengemuka ketika cara baca ayat Al Quran yang dilakukan Adinda tidak seperti pakem yang selama ini dipraktikkan secara umum.

Ayat-Ayat Adinda adalah film pertama proyek rangkaian produksi film dari Gerakan Islam Cinta, yang menggandeng lima rumah produksi: MVP Pictures, Dapur Film, Studio Denny JA, Argi Film, dan Mizan Productions. Sebagaimana nilai-nilai yang ingin disebarluaskan oleh gerakan ini, Ayat-Ayat Adinda mengangkat isu terkini tentang terlalu mudahnya masyarakat menghamiki dan memberi label sesat pada kelompok lain, termasuk di kalangan umat Islam sendiri.

“Sekarang begitu mudahnya sekali kita bilang orang sesat tanpa mempertimbangkan lagi bahwa kita hidup bersama, kita hidup bersama sudah lama sekali di negeri ini, seolah-olah hilang. Makin ke sini kita makin tegang, berbeda sedikit—berbeda etnis, berbeda kepercayaan , presiden pilihannya siapa—kita mudah sekali untuk ribut. Titik itulah yang ingin kita bicarakan,” ungkap penulis Salman Aristo dalam konferensi persnya.

Berangkat dari sana, Salman dan timnya memutuskan untuk mengerucutkan persoalan pada pembacaan ayat Al Quran. Akan tetapi, pembuat film ini ingin mengambil dari sudut pandang anak-anak yang polos. “Kita menarik ke dalam intinya lagi, kalau Islam itu Al Quran dan hadis. Kita mencoba membawa ke core yang paling murni, paling bersih, paling lugu, makanya juga diambil dari sudut pandang anak-anak. Lihat saja tagline-nya: ‘Yang dia inginkan hanyalah membaca ayat-ayat Allah.’ Bukankah kita semua seperti itu?” ucap penulis yang akrab disapa Aris tersebut.

Meski filmnya sendiri kental bertema Islami, Ayat-Ayat Adinda sendiri dianggap relevan dalam skala yang lebih besar dan beragam. Menurut Aris, apa yang digambarkan dalam film ini cukup mencerminkan pada situasi Indonesia saat ini, tidak hanya dalam persoalan agama. Karena itu pula, ia dan timnya tidak menekankan secara spesifik tentang alasan keluarga Adinda dianggap sesat.

Kalau sesatnya itu apa dan kenapa, buat saya sudah tidak penting lagi. Dan, ini dibuat dari sudut pandang anak-anak, yang mereka juga tidak mengerti mengapa . Kami memosisikan dengan what if, bagaimana kalau kita dibesarkan di keluarga yang dianggap sesat. Ngerti juga enggak itu anak kenapa dibilang sesat. Karena buat kami, sudah terlalu mudah kita sekarang untuk melabeli orang, penunggalan makna. Kita pernah mengalami masa itu, ketika satu sebutan saja dengan satu stigma saja, orang-orang sampai berketurunan habis sudah. Kami tidak mau lagi,” jelasnya.

Film Ayat-Ayat Adinda yang turut diproduseri Raam Punjabi, Putut Widjanarko, dan Hanung Bramantyo ini turut didukung oleh penampilan Cynthia Lamusu, Deddy Sutomo, dan penampilan khusus dari komedian Yati Pesek dan Marwoto.