Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie / Dheepan, Kisah Pahit Korban Perang dalam Film Prancis

Dheepan, Kisah Pahit Korban Perang dalam Film Prancis

Dheepan, Kisah Pahit Korban Perang dalam Film Prancis

Indolah.com – Selama 20 tahun perjalanannya, Festival Sinema Prancis selalu menghadirkan film-film bermutu tinggi untuk para pecinta film di Tanah Air. Untuk Festival Sinema Prancis 2015, Dheepan adalah salah satu film yang dijagokan akan mengaduk-aduk emosi para penonton.

Terang saja, film karya Jacques Audiard yang diputar pada pembukaan Festival Sinema Prancis ini meraih penghargaan tertinggi Palme d’or pada Festival Film Cannes 2015.

Menceritakan kisah Dheepan, seorang mantan prajurit Sri Lanka yang memutuskan kabur dari negaranya. Untuk bisa kabur, ia mesti pergi dengan status berkeluarga. Jadilah Dheepan membawa seorang wanita dan bocah perempuan kecil dengan harapan dapat memperoleh suaka politik dengan mudah di Eropa.

Sesampainya di Paris, ketiga orang yang tidak saling mengenal ini terpaksa tinggal di lingkungan yang keras. Sambil berusaha membangun hidup sebagai keluarga, mereka juga mesti berjuang menutup luka yang belum mengering akibat perang di Sri Lanka.

Film dibuka dengan adegan seorang perempuan berlari-lari menanyai tiap bocah perempuan yang ia temui.

“Apakah kamu punya ibu? Di mana keluargamu? Kenapa kamu menangis? Kamu mau ikut denganku?”

Perempuan tersebut adalah Yalini. Ia tengah mencari seorang anak perempuan untuk ia bawa kabur ke Eropa. Bersama Dheepan, Yalini dan Illayaal, bocah perempuan kecil tersebut, berhasil kabur ke Prancis dengan memalsukan dokumen dan paspor sebagai sebuah keluarga.

Di Prancis, mereka terpaksa tinggal di lingkungan yang dipenuhi para pencari suaka. Demi bisa bertahan hidup, Dheepan bekerja sebagai tukang bersih-bersih gedung di lingkungan tempat ia tinggal. Sementara Yalini bekerja mengurus orang tua di gedung lain saat Illayaal bersekolah.

Perbedaan bahasa tidak menyulitkan mereka. Perlahan-lahan, ketiga orang yang awalnya tidak saling mengenal ini membangun emosi sebagai sebuah keluarga utuh. Yalini yang tak pernah memiliki anak, harus mulai belajar bagaimana mengurus anak perempuan.

Konflik memuncak saat terjadi peperangan antar geng di lingkungan mereka. Yalini yang ketakutan, berusaha kabur meninggalkan Dheepan dan Illayaal. Untunglah Dheepan berhasil membawanya kembali. Namun ketakutan Yalini tidak berhenti sampai di situ. Berkali-kali Dheepan meyakinkan kalau peperangan di sana, belum ada apa-apanya dengan perang di negara asal mereka.

Dheepan

Rahasia mulai terkuak. Dheepan bukanlah nama sebenarnya. Dheepan dulunya tentara pemberontak yang ingin berhenti berperang karena kehilangan anak dan istrinya. Tapi saat Yalini terjebak dalam peperangan antar geng, Dheepan harus memilih, membiarkannya dan tetap hidup menjadi orang baik atau kembali mengangkat senjata menyelamatkan Yalini.

Tema yang diangkat serta penyutradaan yang sangat baik membuat film ini berhasil menggondol penghargaan tertinggi Palme d’or di ajang Festival Film Cannes 2015. Meski aktor-aktornya tergolong baru di ranah perfilman, namun mereka cukup berhasil mengoyak-ngoyak emosi penonton dengan menunjukkan wajah asli para korban perang.

Festival Sinema Prancis 2015 sudah serentak digelar pada tanggal 3-6 Desember 2015 di sembilan kota di Tanah Air yaitu Jakarta, Surabaya, Yogyakata, Bandung, Malang, Medan, Denpasar, Makasar dan Balikpapan. Untuk di Jakarta, festival dihelat di XXI Plaza Indonesia. Tiket dibanderol Rp 35.000.