Templates by BIGtheme NET

How to Train Your Dragon 3: The Hidden World
Home / Movie / Avengers: Age of Ultron, Lebih Ramai Belum Tentu Lebih Hebat

Avengers: Age of Ultron, Lebih Ramai Belum Tentu Lebih Hebat

MovieReview,Indolah – Avengers: Age of Ultron bagaikan event Piala Dunia yang demamnya menjangkiti semua orang. Film ini mempertemukan kembali para superhero Marvel yang sebelumnya sukses dengan film masing-masing: Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, ditambah yang belum punya film sendiri seperti Hawkeye, Black Widow, dan Nick Fury. Apalagi, pertemuan pertama mereka di The Avengers (2012) sukses besar. Dengan riwayat seperti itu, tidak heran bila Marvel ingin menyajikan yang lebih besar, lebih ramai, dan lebih hebat di pertemuan yang kedua ini.

Tony Stark (Robert Downey, Jr.) bersama Dr. Bruce Banner (Mark Ruffalo) mencoba membongkar rahasia di balik batu Loki, yang ternyata dapat membangun sebuah komponen artificial intelligence (kecerdasan buatan) yang lebih pintar dari manusia. Tadinya, Stark ingin memakainya untuk membangun pasukan robot pelindung bumi, sehingga superhero tak perlu lagi bekerja terlalu keras. Akan tetapi, artificial intelligence itu malah melahirkan Ultron (diisi suara James Spader), yang punya kehendak sendiri, dan kehendak itu tidaklah menguntungkan bagi umat manusia. Di sisi lain, tindakan Stark dan Banner membangun artificial intelligence tanpa bilang-bilang, menimbulkan benih perpecahan di dalam tim Avengers.

Ramainya para tokoh superhero merupakan hal yang membuat film Avengers selalu dinanti. Di mana lagi bisa melihat aksi para superhero dengan kemampuan berbeda-beda beraksi bersama-sama menyelamatkan bumi. Bagusnya, penulis dan sutradara Joss Whedon tahu bagaimana cara untuk menampilkan aksi dan kepribadian masing-masing superhero ini dengan porsi adil dan tepat timing-nya. Selain para superhero yang disebutkan di atas (plus Ultron), film ini juga menampilkan sosok sakti baru, seperti si kembar Maximoff, Pietro alias Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) dan Wanda alias Scarlet Witch (Elizabeth Olsen), ada pula sahabat Iron Man, War Machine (Don Cheadle), juga kemunculan The Vision (Paul Bettany)—yang tampilannya didesain dengan sangat anggun.

Jika para superhero ini sampai harus berkumpul, pastinya ada sesuatu yang sangat besar dan genting. Ketika The Avengers pertama mendatangkan musuh dari dimensi lain, maka Age of Ultron menampilkan musuh yang diciptakan oleh manusia (anggota Avenger) sendiri, sekalipun pertaruhannya tetap keutuhan bumi. Yang pasti, Ultron adalah sebuah kesadaran yang berbentuk software, bisa meretas data seluruh dunia, mudah berpindah “tubuh”, sekaligus sanggup memproduksi pasukan robot canggih (meneruskan apa yang tadinya dilakukan Stark).

Tetapi, mungkin itu bukan kesalahan Age of Ultron sepenuhnya. Film ini dibuat dengan plot yang exciting, juga memunculkan interaksi yang menarik antararakternya meski dalam waktu terbatas, termasuk memasukkan unsur drama. Setiap adegan laganya dibuat dengan apik dan ramai, dibantu dengan tata suara dan visual effects yang cermat dan nyaman disimak. Nilai-nilai kepahlawanan tiap superhero tetap sanggup ditonjolkan. Hanya saja, sebagai film yang seharusnya berskala lebih besar dari film Marvel lainnya, Age of Ultron tidak lagi se-fresh The Avengers pertama, tidak segila-gilaan Guardians of the Galaxy, dan tidak sesignifikan Captain America: The Winter Soldier—yang memuat pengungkapan yang mengubah keadaan seluruh semesta film Marvel.

yang mungkin paling memengaruhi adalah Age of Ultron seakan hanya jadi sebuah episode perantara dari kelanjutan visi Marvel Cinematic Universe (MCU), yang mengaitkan semua film superhero Marvel dalam satu benang merah besar. Film ini seolah tidak tuntas: bagian awalnya harus dibantu dengan film-film Marvel sebelumnya, dan bagian akhirnya masih akan dilanjutkan dengan film-film Marvel sesudahnya—memuncak pada Avengers: Infinity War di tahun 2018 dan 2019. Kalau mau diambil positifnya, Age of Ultron memuat beberapa kejadian yang mungkin jadi latar belakang peristiwa-peristiwa di film-film Marvel yang akan datang, walau belum jelas seberapa besar pengaruhnya.